Wednesday, March 9, 2011

Never Talk About Regret in Future

Aku masih ingat jelas ketika itu sehari sebelum hari ulang tahunku yang ke 20, kutulis perasaanku di buku harian dengan sedih:

dear diary…
today is my last teen…
tomorrow iam going to be twenty…
i am just so scared to be an adult…

memang terlihat norak pada awalnya, tetapi sungguh—pada saat itu, jauh di lubuk hatiku muncul semacam perasaan takut.. aku sendiri sulit untuk mendeskripsikan sebenarnya takut karena apa??? takut jadi tua atau takut jadi dewasa??? well, mungkin ini dampak dari masa kecil kurang bahagia.. lagi-lagi muncul pertanyaan di benakku: memangnya masa kecilku kurang bahagia? Apapun itu, yang kurasakan ini seolah efek dari ketidaksiapan diriku untuk menyongsong masa depan yang sudah mulai terlihat di depan mata..

aku hanya merasa belum rela sepenuhnya untuk meninggalkan masa kanak-kanakku—masa-masa yang sangat indah bagiku, dimana kita bisa berbuat seenaknya tanpa harus mikir besok mau makan apa, apakah finansialku cukup sampai akhir bulan, bagaimana kalau besok tiba-tiba aku harus kehilangan pekerjaanku dan tentunya urusan-urusan orang dewasa yang complicated lainnya.

Aku hanya belum merasa puas menikmati masa remaja yang seharusnya di masa itu aku bisa melakukan lebih dari yang telah kulakukan.. seharusnya aku jauh lebih bisa melakukan sesuatu yang telah dilakukan orang lain.. i should have done something different.. in fact, i have done nothing.. lagi-lagi aku kembali ke topik ini—topik yang sudah kutulis di postingan sebelumnya—sesal kemudian tiada berguna..

wahai penyesalan, mengapa kau selalu datang terlambat??? dan mungkin inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantui pikiranku.. penyesalan tidak akan pernah bisa di perbaiki.. karena waktu tidak akan pernah bisa berputar lagi.. all the things i have to do now is.. berbuat hal terbaik di titik mana aku berdiri saat ini—seperti juga yang dikatakan oleh Andrea Hirata di bukunya Sang Pemimpi—itulah makna dari bersikap realisitis yang sesungguhnya.

Rasa sesal itu bagaikan cambuk yang mendera begitu keras ditubuh, rasanya begitu menyakitkan dan sangat membekas hingga tak terhapuskan, bahkan oleh sang waktu sekalipun.. hanya orang bodoh yang akan jatuh kedalam lubang yang sama, dan pada akhirnya.. aku harus mengakui bahwa Hidup memang adalah sebuah pilihan.. dan bagaimanakah aku harus memilih jalan hidupku??? apakah aku akan memilih untuk menjadi orang bodoh karena akan mengulang kesalahan yang sama??? just dont want to talk about regret again in my future..


--Luz--
Surabaya, March 02, 2009

No comments:

Post a Comment