Wednesday, February 23, 2011

THE DREAMER

Your life ends when you stop dreaming—dan memang, aku sangat setuju dangan statement tsb. Kita memang butuh sebuah mimpi untuk bisa survive dalam menghadapi hidup yang kejam ini—dan pada kenyataannya, hidup memang benar2 kejam, sangat kejam malah. Tentunya kita memang akan berusaha mati-matian untuk bisa menjadi survivor selama mimpi2 itu belum terwujud—dan apabila sudah terwujud, apakah hidup itu otomatis akan langsung berhenti?

Well, kita sebagai manusia pada prinsipnya tentu tidak akan pernah merasa puas terhadap apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, dan memang itulah sifat manusia—TIDAK AKAN PERNAH MERASA PUAS. Setelah mimpi terpenuhi, tentu saja akan lahir mimpi2 lain yang akan menggantikannya.

Membaca judul bukunya, iam amazed, apalagi setelah kegagalan baru saja terjadi—yang benar2 membuat kecewa setengah mati, hingga makan tak enak dan tidur pun tak nyenyak.. benar2 terpuruk, sedih, hopeless, yang akhirnya hanya menimbulkan kebencian terhadap diri sendiri, bahkan terhadap everything around me, (well, I hate this place, I hate the people, and I hate everything). In conclusion, benar2 SGM (Stress, Gendheng, Miring) *kidding* :d

Sang Pemimpi–Benar2 sebuah judul buku yang indah,,, inikan aku banget….. Yes, iam the Dreamer Indeed. Thanx Mr. Hirata for motivating me through the book. Jauh sebelum buku tsb terbit, Aku memang benar2 sudah menjadi seorang pemimpi yang akut. Mungkin saja sang penulis juga akan men-judge aku sbg Obsesif Kompulsif—kalo saja dia tahu akan mimpi2 ku. Anyway, those will always be my top secret,, hehee
Sebenarnya dari dulu aku sudah sadar betul kalau aku adalah seorang pemimpi—dan karena hal itulah, sempat membuatku merasa aneh, different, dan unusual. Aku sempat menyesal ketika pernah memberitahu beberapa orang tentang hal tersebut, tiba2 saja aku jadi merasa sangat tidak percaya diri, malu, dan takut ditertawakan oleh mereka2.

Dulu, aku pernah merasa iri terhadap teman2 yang bisa bersikap realistis terhadap kehidupan mereka, sangat realistis, sangat wajar dan tidak aneh2 seperti aku. Meanwhile, aku merasa seperti kebanyakan berimajinasi dan seolah olah semuanya hanya akan ada di dunia maya, mimpi itu hanyalah sebuah mimpi. Aku ingin seperti mereka, tapi aku juga ingin jadi diriku sendiri…

Belakangan baru kusadari bahwa “sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang” (Hirata,Sang Pemimpi,144). And right now, I am very glad to talk about the importance of the dream. NEVER STOP DREAMING!!!


--Luz--
Sidoarjo, Nov 08, 2008

No comments:

Post a Comment